Ngopi, Hobi yang Bikin Sehat?

Aroma kopi yang khas telah membuat minuman ini menjadi favorit banyak orang. Karena rasanya yang nikmat, banyak orang berpendapat kalau kebiasaan minum kopi tidak menyehatkan. Padahal, Anda bisa kok memetik manfaat sehat dari secangkir kopi.
Berbagai laporan ilmiah sudah menyebutkan bahwa minum kopi baik untuk sistem pembuluh darah dan diduga kuat mencegah stroke. Bulan Maret lalu, para peneliti dari Swedia juga melaporkan bahwa kopi dapat memangkas risiko stroke pada wanita hingga 25 persen.
Pada tahun 1970-an, sebuah studi menyebutkan para penggemar kopi berisiko tinggi terkena serangan jantung. Namun, kesimpulan itu dibantah oleh studi lain yang menyatakan sebaliknya. Sayangnya, penelitian itu dikritik karena skalanya terlalu kecil.
Untuk merespon kekhawatiran para pecinta kopi, peneliti dari Harvard School of Public Health membuat riset mengenai konsumsi kopi yang melibatkan 45.000 pria. Hasil analisis mereka yang dimuat dalam New England Journal of Medicine tahun 1990 menyimpulkan, kebiasaan ngopi tidak berdampak pada risiko penyakit jantung atau stroke.
Studi-studi lain seputar kopi dan kesehatan terus menyusul. Yang teranyar adalah studi yang dilakukan tim dari Jepang terhadap 81.000 pria dan wanita. Diketahui, mereka yang minum satu atau dua cangkir kopi setiap hari risikonya terkena penyakit kardiovaskular turun sampai 23 persen. 
“Berbagai studi memang menyebutkan kopi tidak membahayakan, bahkan bisa menyehatkan. Tetapi hal itu belum membuktikan hubungan sebab akibat karena para peminum kopi dan bukan penggemar kopi sangat berbeda,” kata Dr.Nersen Sanossian, profesor neurologi dari UCLA.
Perbedaan tersebut misalnya kebiasaan olahraga, merokok, atau pola hidup lainnya.
Walaupun kopi terbilang aman, akan tetapi tidak dianjurkan untuk mereka yang bukan penggemar kopi lalu beralih ke kopi untuk mencegah stroke. 
“Pada sebagian orang, kopi dapat menyebabkan gangguan irama jantung serta munculnya efek kecanduan pada orang lain. Orang yang terbiasa minum kopi dengan krim dan gula juga tidak akan mendapatkan manfaat kesehatan,” kata Mark Urman, ahli jantung dari Cedars-Sinai Heart Institute.
Sumber: kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *